Security

Awas, Banyak Vpn Gratis Di Android Yang Berbahaya

Ilustrasi. Foto: GettyImagesIlustrasi. Foto: GettyImages

Jakarta – Pemblokiran suatu layanan internet menciptakan sebagian pengguna mengandalkan VPN. Tapi pengguna Android yang ingin memakai layanan virtual private network (VPN) gratisan memang harus berpikir dua kali sebelum memakai layanan tersebut. Kenapa?

Hasil penelitian dari Metrics Labs pada awal tahun 2019 ini menyebut satu dari lima aplikasi VPN Android gratis terpopuler di yang ada malah menjadi sumber celah keamanan untuk masuknya malware ke dalam ponsel. Bahkan, seperempat di antaranya mengandung bug yang melanggar privasi ibarat membocorkan DNS.

Parahnya, berdasarkan Head of Research Metrics Labs Simon Migliano, aplikasi VPN semacam ini dicatat oleh Google sudah diinstal lebih dari 260 juta kali, demikian dikutip detikINET dari Tech Radar

Tonton video: Hati-hati, Bahaya Penggunaan VPN Gratis di Android!

[Gambas:Video 20detik]

Metrics Labs mempublikasikan laporan penelitiannya terhadap aplikasi VPN gratisan ini untuk membantu pengguna Android. Yaitu semoga mereka dapat mengerti risiko yang mereka ambil dengan memakai aplikasi VPN gratisan, salah satunya ialah pelanggaran privasi pengguna.

Dari laporan tersebut, ada 27 dari 150 aplikasi VPN yang dapat menjadi sumber potensial malware sehabis diuji memakai aplikasi VirusTotal.

Kebocoran DNS

Lebih lanjut, 25% dari 150 aplikasi VPN gratis di Play Store terdampak dari problem keamanan kebocoran DNS. Yaitu dikala VPN gagal mengalihkan usul DNS ke jalur terenkripsi VPN-nya.

“Masalah keamanan ini terjadi dikala VPN gagal memaksa usul DNS melalui terowongan terenkripsi menuju server DNS miliknya dan malah mengizinkan usul DNS dilewatkan ke server DNS default milik ISP. Kaprikornus meski kemudian lintas data pengguna dapat disembunyikan, kebocoran ini membuka browsing history pengguna ke ISP dan server DNS pihak ketiga lain,” ujar Migliano.

Laporan yang sama juga menyebut sejumlah aplikasi VPN gratis meminta izin jalan masuk yang sangat intrusif ke pengguna. Yaitu 25% meminta jalan masuk ke lokasi pengguna, 38% meminta jalan masuk ke informasi status perangkat, dan 57% menyelipkan arahan untuk mencari lokasi terakhir pengguna.

Hal ini sangatlah ironis, alasannya ialah penggunaan VPN yang seharusnya dapat mengamankan privasi pengguna. Alih-alih, jikalau tak pintar-pintar menentukan layanan, privasi dan keamanan lain pengguna malah terbuka lebar.

Related Articles

Close