Security

Hal-Hal Yang Mengancam Pengguna Kalau Pakai Vpn Gratisan

Ilustrasi. Foto: GettyImagesIlustrasi. Foto: GettyImages

Jakarta – Dibatasinya terusan pada media umum dan layanan messaging menciptakan sebagian pengguna mengakali dengan menginstal VPN (Virtual Private Network). Tapi menyerupai sudah diperingatkan, tidak ada makan siang gratis atau free lunch. Meski tak membayar uang, ada hal lain yang harus dipertaruhkan.

“Layanan VPN free ini kan harus bikin kita tanda tanya dulu ya, kenapa orang mau “baik” beri gratisan. Padahal kan menyediakan layanan VPN publik harus punya server, bandwidth, IP di beberapa negara dan lain-lainnya, yang berarti harus mengeluarkan biaya tiap bulan,” kata gadget enthusiast Lucky Sebastian kepada detikINET.

“Jadi kemungkinan ada trade-off yang harus dibayar oleh pengguna. Nah bila bukan uang atau biaya berlangganan VPN, berarti ada yang lain, yang dapat diambil oleh penyedia layanan untuk membiayai layanan free VPN ini,” papar dia.

Lebih lanjut, Lucky menjelaskan bermacam-macam hal dilakukan pemberi layanan VPN gratis ini untuk membiayai layanannya. Biasanya dengan menciptakan log atau memetakan kebiasaan pengguna. Misalnya mengunjungi website apa saja, jam berapa, berapa lama, apa yang dibeli bila mengunjungi e-commerce, apa yang sering dilihat, apa yang di-download, dan sebagainya.


“Data ini harganya mahal bila dijual atau dipakai sebagai analitik. Kemudian dapat juga pengguna harus trade dengan adware atau iklan, bukan sekedar iklan yang tampil di layanan ketika koneksi, tetapi adware, VPN dapat menginject aplikasi adware yang running di background,” sebut pendiri Gadtorade ini.

Dan yang paling parah yaitu memasukkan malware dalam rangka untuk mencuri data dan lain sebagainya. Studi keamanan data di tahun 2017 menemukan dari 300 VPN yang di test, 38% mempunyai advertising atau adware dan malware. Kemudian 84% penyedia layanan ini membocorkan traffic data penggunanya, ke pihak lain dan 18% tidak mempunyai enkripsi.

Tonton video: Hati-hati, Bahaya Penggunaan VPN Gratis di Android!

[Gambas:Video 20detik]

Bagaimana dengan Data m-Banking?

Penggunaan VPN gratisan juga dikhawatirkan berujung kebocoran data m-banking pengguna yang berpotensi merugikan. Tapi Lucky meyakinkan data m-banking tetap kondusif meski ada ancaman lain yang mengintai dari pintu berbeda.

“Sebenarnya VPN ini kan menyerupai tunneling, jalur khusus dimana data end-to-end di enkripsi. Data m-banking harusnya yang melewati aplikasi bahwasanya sudah terenkripsi, harusnya tetap kondusif sih kala datang di server bank, sebab yang punya key dekripnya yaitu bank,” sebut Lucky

“Tapi mungkin saja VPN menginject malware, misal key logger di smartphone atau laptop kita, nah ini membuka peluang dan kita ingat 18 persen VPN tidak mengenkripsi datanya. Makara bila ada serangan man in teh middle, data ini terbuka,” tambah dia.


Lucky mencontohkan perkara Hola VPN pada tahun 2015 yang pernah memakai database yang beliau kumpulkan dari pengguna free VPN nya untuk botnet DDoS.

“Jadi pembuat free VPN ini dapat punya intensi yang beragam. Paling banyak ya memetakan log dan kebiasaan untuk analitik aneka macam keperluan, iklan, layanan, produk, mengetahui kebiasaan demografik, dan lain-lain,” pungkas Lucky.

Related Articles

Close