Uncategorized

Kisah Murung Seorang Ibu Yang Berjuang Lawan Tiga Kanker Sekaligus

Ilustrasi perempuan terdiagnosis kanker. Foto: thinkstock Ilustrasi perempuan terdiagnosis kanker. Foto: thinkstock

Jakarta – Dalam 12 tahun terakhir, Debbi Caquias (51) menghabiskan hidupnya tak bisa berbicara atau makan layaknya orang normal. Selama itu juga ia berperang melawan tiga jenis kanker yang menggerogoti tubuhnya, yakni di lidah, tulang dan kelenjar getah bening.

“Dokter berkata saya sangat sial alasannya ialah terdiagnosis tiga kanker berbeda, saya merasa menyerupai bom waktu menunggu meledak. Aku sangat rindu hal-hal praktis menyerupai tersenyum, berbicara, tertawa dan mencium anak-anakku (walau mereka lebih sering menciumku),” tulis Debbie, dalam korespondensinya dengan situs Metro.co.uk melalui email .

Tahun 2007, kanker terdiagnosis di lidahnya dan menciptakan dirinya menjalani kemoterapi dan radioterapi selama 7 minggu. Prosedur tersebut seakan mengkremasi ekspresi dan tenggorokannya, membuatnya tak memungkinkan dirinya untuk makan sehingga masakan ‘dimasukkan’ lewat perutnya.

Lalu pada tahun 2015 ia menjalani bedah rekonstruktif namun tulang rahangnya hancur dan mata kirinya lumpuh. Tak usang kemudian dua kanker lain terdiagnosis di tulang dan kelenjar getah bening di lehernya.

Karena hal itu juga, Debbie kerap jadi sorotan orang-orang ketika berbelanja, atau sekadar berjalan-jalan dengan keluarganya. Namun ia berjuang untuk tetap kuat, apalagi ketika kedua anak perempuan dan suaminya sangat-sangat mendukung mereka.

“Suami dan anak-anakku ialah pendukung utamaku. Walau masih muda, para putriku sangat luar biasa. Mereka membantu membersihkan lukaku dan tak akan membuatku sedih. Kadang ada ketika di mana saya merasa kewalahan dan bersalah namun saya tidak bisa begini saja dan menyerah,” tuturnya.

Walau tak bisa berbicara, ia dan keluarganya punya cara sendiri untuk berkomunikasi. Kini yang ia butuhkan hanyalah melaksanakan imunoterapi dan dokter bedah rekonstruksi yang sangat ahli, namun biaya yang diharapkan di luar kemampuan mereka. Oleh alasannya ialah itu keluarga dan teman-temannya membuka laman bantuan untuk Debbie.

“Aku langka, biasanya orang yang terkena kanker (lidah) sepertiku tidak bertahan hidup bahkan hingga dua kali sehingga saya merasa sngat bersyukur bisa berada di sini. Sangat sulit berada di luar sana yang membuatku merasa sangat lemah. Aku menolak untuk berputus asa dan berpikir, bila saya sanggup menemukan orang yang sempurna (dokter bedah), kita sanggup memperbaikinya,” pungkasnya.

Related Articles

Close